Telur Penyu Kerap dijadikan Komoditi Jual Beli, Pemerintah KSB Bertindak Tegas Terhadap Oknum tak Bertanggung Jawab

Bagikan Berita:

Mataram, GemaNtb.Com – Pemburuan satwa laut yang dilindungi semakin hari semakin marak terjadi, manfaat ekonomi yang diberikan dari penjualannya yang cukup tinggi membuat keberadaan satwa-satwa yang dilindungi makin hari kian terancam kehidupannya. Salah satu kasus tersebut datang dari kabupaten Sumbawa barat (KSB) dimana penyu hijau kerap diambil telurnya untuk di perjual belikan.

Endang Yunari selaku kepala Bidang pengelola produk sumber daya perikanan Dinas Perikanan wilayah kerja KSB mengatakan bahwa sejauh ini sudah dilakukan beberapa upaya proteksi, salah satunya dengan menyosialisaikan beberapa bentuk edukasi terkait pelarangan memburu dan mengganggu habitat satwa yang dilindungi.

Beberapa pihak dilibatka dalam misi ini, salah satunya bekerjasama dengan Balai Pengelola Sumberdaya pasir dan laut (BPSDPSL) Denpasar. “mereka juga akan beraudiensi dengan bupati KSB membicarakan langkah-angkah penyelamatan ini”. Ujar Endang kamis (23/06).

Langkah sosialisasi juga di upayakan oleh penyuluh perikanan KSB Rinto Basuki kepada masayarakat KSB, beberapa topic di suarakan guna menyetop masyarakat melakukan perusakan habitat penyu, salah satunya menyuarakan alasan ilmiah mengapa telur penyu bisa berbahaya di konsumsi manusia.
“kita juga akan mengedukasi masyarakat dari sisi kesehatan. Bahwa mengkonsumsi telur penyu maupun penyu itu sendiri berbahaya”. Pungkasnya.

Rinto menegaskan “Selain ancaman kesehatan, hukum pidana juga menanti oknum pemburu penyu sebab, hewan Penyu di lindungi oleh Undang-Undang no 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya hayati dan ekosistemnya. Rinto menambahkan “penyu dan bagian-bagia tubuhnya termasuk turunannya tidak boleh di tangkap, dilukai, dibunuh, disimpan, dimiliki, dipelihara, diangkut dan di perdagangkan. Jika ini melanggar ada konsekuensi hukum yaitu pidana 5 (lima) tahun penjara dan denda Rp. 100 juta”. Paparnya.

Penyu sendiri merupakan biota laut yang sangat dilindungi di Indonesia, Rinto mengatakan, dari data mengatakan, setidaknya terdapat tujuh jenis penyu yang tersebar di dunia, dari ketujuh jenis tersebut 6 diantaranya hidup di perairan Indonesia, “lima dari enam penyu di Indonesia tersebut adanya di Sumbawa barat. Penyu hijau yang lebih banyak mendominasi. “Jelasnya

Ia menambahkan juga, kelima jenis penyu di Sumbawa tersebut hidup di areal KSB, dan kasus perburuan yang masuk perhatian saat ini adalah aktivitas illegal pada kabupaten Sekongkang KSB. “Itu tersebar (penyu) di wilaya pesisir selatan KSB, terutama di kecamatan sekongkong”. Ujarnya.

Rinto mengatakan, rencanannya pekan ini pihak BPSDPSL dari Denpasar Bali akan meninjau langsung kasus yang ada di sekongkong.
“BPSDPSL Denpasar juga mngakui ancaman kepunahan ini. Penyeab utama itu akibat tingginya angka perburuan telur penyu untuk diperdagangkan dan dimakan. Termasuk belum maksimalnya konservasi penyu”. Tutupnya (GM/Eby).

Sumber: lombokpost.jawapos.com

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.