Nikmati Uang Nasabah Rp 1,8 Milyar, Oknum Teller BRI Dompu Dituntut 8 Tahun Penjara

Bagikan Berita:

Kab. Dompu, GemaNTB – Terduga kasus korupsi dan pencucian uang nasabah PT. Bank BRI Unit Woja Kab. Dompu yang kasusnya terungkap pada Februari 2022, kini proses penanganan kasusnya telah memasuki tahap sidang pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Tipikor Mataram Prov. NTB.

Dalam sidang yang berlangsung pada Kamis (23/6) tersebut, terduga pelaku AE dituntut 8 tahun penjara dan denda Rp. 200 juta serta subsider 6 bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Fajar Alamsyah Malo. Selain itu JPU juga menuntut terdakwa untuk membayar ganti rugi keuangan negara senilai Rp. 954.021.123.

baca juga : https://gemantb.com/2022/02/23/dibantu-ipar-oknum-petugas-teller-bri-dompu-selewengkan-uang-negara-18-milyar/

Terdakwa dituntut pasal berlapis yang meliputi UU No. 20 tahun 2001 Pasal 2 tentang perubahan atas UU No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) serta UU No. 30 tahun 2010 Pasal 3 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (PTPPU).

Terungkap dalam memori tuntutan yang dibacakan oleh JPU tersebut, bahwa uang hasil korupsi tersebut digunakan oleh terdakwa AE untuk membeli sejumlah aset dalam bentuk tanah, membeli kebutuhan pribadi, bermain judi online dan meminjamkan kepada para kenalannya.

Terdakwa AE bersama Pengacaranya, Abdul Manan


Untuk pembelian aset terungakap bahwa terdakwa membeli sebidang tanah di Calabai senilai Rp. 100 juta, kemudian membeli tanah di wilayah Dompu milik Gusti Made seharga Rp. 60 juta serta tanah miliknya Gusti Putu Pacung seharga Rp. 80 juta.

Begitupun untuk kebutuhan hidupnya, JPU mengungkap bahwa terdakwa telah menghabiskan uang nasabah senilai Rp. 492 juta untuk membeli berbagai barang kebutuhan pribadinya sehari-hari. Selain itu, uang sejumlah Rp. 300 juta juga telah ia hamburkan untuk berjudi online.

baca juga : https://gemantb.com/2022/02/26/berkas-perkara-korupsi-rp-18-milyar-oknum-teller-bri-dompu-naik-ke-jpu/

Sementara untuk urusan pemberian pinjaman, Rp. 129 juta telah dipinjamkan terdakwa kepada Jawiah, Rp. 100 juta kepada Dwi Soehartono, Rp. 500 juta dipinjamkan kepada Irawan, serta Rp. 20 juta dipinjamkan kepada Efendi.

JPU Fajar Alamsyah Malo dalam bacaan tuntutannya juga menyebutkan, “Uang itu sudah habis digunakan, uang tersebut dialihkan untuk membayarkan, membelanjakan, mengubah bentuk, sehingga terdakwa dijerat dengan PTPPU”. sebutnya.

Selanjutnya, dalam proses persidangan tersebut dilakukan pengembalian kerugian keuangan negara sejumlah Rp. 20 juta oleh saksi Jawiah kepada JPU dari total pinjamannya kepada terdakwa senilai Rp. 129 juta.

Sebagaimana yang diberitakan media GemaNTB diawal mencuatnya kasus ini, terdakwa AE yang sebelumnya merupakan petugas Teller BRI Unit Woja melakukan tindakan korupsi dan pencucian uang nasabah dengan cara menyusup masuk ke dalam sistem dan mengambil uang negara dengan memalsukan identitas dan tanda tangan nasabah yang dikenalnya.

Perbuatan tersebut dilakukan terdakwa AE sejak Agustus 2019 hingga Maret 2020. Warga Kelurahan Monta Batu Kec. Woja Kab. Dompu ini sebelumnya resmi ditetapkan sebagai tersangka pada (23/2) oleh Kejaksaan Negeri Dompu setelah melalui berbagai penyelidikan dan penyidikan kasusnya.

Jumlah tabungan nasabah yang terdakwa tarik dalam tindak kejahatan tersebut bervariatif mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta dengan total Rp. 1. 753.521.123 yang dibulatkan menjadi Rp. 1,8 Milyar. Sementara jumlah nasabah yang menjadi korban dari perbuatan terdakwa terdata sebanyak 11 orang. /Gm-ER

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.