PRESTASI NTB DI AJANG KONTES DANGDUT NASIONAL, LOMBOK TIMUR NYARIS MENYAMAI BIMA

Bagikan Berita:

Gemantb.com -Kontes dangdut menjadi salah ajang favorit yang digelar oleh beberapa stasiun televisi nasional. Selain sebagai formula untuk menaikkan rating siaran televisi dan menjadi aset yang berharga karena mampu menarik minat banyak sponsor yang menawarkan kerjasama, tapi juga mampu melibatkan banyak peserta mulai dari proses penjaringan (audisi) hingga menjadi trending topik saat perhelatan kontesnya.

Melibatkan peserta sebagai wakil daerah asalnya adalah salah satu daya tarik yang membuat ajang ini begitu antusias diikuti dan disaksikan oleh masyarakat pencinta musik dangdut yang merupakan musik identitas asli bangsa Indonesia.

Begitupun dengan masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Barat, pada setiap perhelatan ajang bergengsi tersebut selalu saja disambut hangat, hampir di semua Kabupaten/Kota se-NTB para pedangdut muda berlomba-lomba mengikuti audisi mengadu nasib untuk mewujudkan cita-cita mereka menjadi penyanyi dangdut yang sukses dan ternama.

Masyarakat NTB pertama kali merasakan euforia kontes dangdut nasional adalah melalui ajang Kontes Dangdut Indonesia (KDI) pada tahun 2005 yang saat itu digelar oleh TPI (sekarang bernama MNCTV) dengan duta terbaiknya saat itu yaitu Eka Bima. Eka berhasil menyudahi kontes nasional tersebut dengan meraih juara 3 adalah kebanggaan terbesar bagi masyarakat NTB khusus Kota dan Kabupaten Bima.

Tahun 2015 menjadi tahun gemilang bagi masyarakat NTB khususnya Bima karena pada saat saat itu memiliki 2 (dua) orang duta yang berlaga di ajang yang berbeda dan digelar oleh stasiun televisi swasta nasional yang berbeda pula yaitu Ady Bima di ajang Dangdut Academy 2 Indosiar yang mampu bertahan hingga posisi 6 besar dan Fauzi Bima yang berhasil meraih podium ke 3 (tiga) diajang Kontes Dangdut Nasional Mnctv.

Tahun 2016 menjadi tahun yang istimewa bagi masyarakat NTB karena 3 putra putri terbaiknya mampu lolos bersamaan di perhelatan Dangdut Academy 3 Indosiar yaitu Anggun Bima, Alboa Bima dan Haris Lombok meski hanya Anggun sendiri yang mampu bertengger diposisi final 8 besar.

Ada juga Sahid dari Lombok yang berhasil lolos ke ajang KDI mnctv namun belum berhasil tembus ke babak utama.

Ada pula Aan Bima yang pada tahun 2017 berhasil menempati posisi 11 besar di ajang Dangdut Academy 4 Indosiar

Lalu diperhelatan audisi kontes dangdut nasional berikutnya secara berurutan muncul prestasi-prestasi baru seperti Gita Lombok yg lolos menjadi Duta NTB di LIDA 2018 , ada juga Mentari Bima yang lolos di babak Konser Bintang Pantura 5 Indosiar, Iko Bima yang sukses menjadi jawara DMD 2018 di mnctv dan Iin Bima yg berhasil mewakili NTB di LIDA 2019

Jika mereview kembali jejak-jejak prestasi diatas, Bima menjadi tumpuan kebanggaan bagi Prov. NTB karena sebagian besar dari duta yang mengharumkan nama daerah dikancah nasional selama ini adalah berasal dari Bima.

Namun dalam 2 tahun terakhir ini, Kabupaten Lombok Timur patut diapresiasi krn secara berurutan berhasil mengantar 3 putri terbaiknya mewakili NTB diajang yang serupa. Ada Eva Lida yang berhasil tembus hingga posisi 12 besar di ajang LIDA 2020 Indosiar, ada Gita Kdi yang berhasil menjuari KDI 2020 di mnctv dan yang terakhir adalah Sulis Lida yang sukses menggenggam trophy juara 3 diajang LIDA 2021 yang baru saja berakhir sebulan yang lalu.

Kota/Kabupaten Bima melewati ajang bergengsi dalam 2 tahun terakhir ini hanya sebagai penonton saja. Mengapa demikian? apa yang menjadi kendala utamanya?

Untuk mengetahui persis jawabannya, tim redaksi mencoba menyambangi Efen R yang merupakan salah seorang penggiat yang selama ini selalu aktif terlibat dalam urusan pendelegasian bagi para calon peserta audisi dari Kota/Kabupaten Bima.

Pendiri sekaligus instruktur utama di organisasi Delegasi Dangdut Bima (DDB) yang khusus melakukan pembinaan bagi calon duta dangdut daerah ini menjelaskan bahwa Bima tidak pernah kehabisan peserta, hanya saja dalam 2 tahun terakhir kita mengalami defisit peserta yang ikut terutama setelah dilakukannya audisi yang bersifat online.

“Jika pada biasanya peserta audisi asal bima lebih dari 50 orang, namun pada tahun 2019 yang ikut tidak lebih dari 20 orang dan pada tahap audisi online tahun lalu peserta yang ikut dibawah 20 orang”. imbuhnya.

Efen R yang merupakan musisi dan pencipta lagu ini juga menambahkan bahwa sejak perhelatan audisi LIDA ditingkat provinsi, Bima selalu unggul. Misalnya pada audisi perdana LIDA tahun 2017 ada 10 peserta dari Bima yang masuk dalam posisi 15 nominator provinsi, tahun 2018 ada 6 orang dan tahun 2019 turun menjadi 4 orang.

Sedangkan di audisi LIDA tahun lalu ada 3 peserta dari Bima yang berhasil lolos ke tahap juri artis yaitu Putry Pebuyanti dan Ibnu Sabil dari Kota Bima dan Kiran Mu’is dari Kec. Sanggar Kab. Bima, namun hanya Kiran dan Sulistiyawati dari Kab. Lombok Timur yang berkesempatan mengenakan selempang dan menjadi Duta NTB yang lolos ke babak konser LIDA 2021.

“Sayangnya animo peserta sudah kian berkurang, malah ada beberapa bibit potensial yang tidak ikut audisi online tahun kemarin. Mungkin karena faktor pandemi sehingga mereka lebih memilih fokus ke job manggung ketimbang ikut audisi”. tukasnya.

Muncul pandemi covid 19 pada awal tahun 2020 menjadi pengaruh pada pasifnya aktifitas pembinaan para calon pedangdut masa depan di organisasi Delegasi Dangdut Bima tersebut. Padahal baru saja melakukan perekrutan anggota binaan baru untuk periode ke empat namun munculnya pandemi membuat rutinitasnya menjadi macet hingga saat ini.

“Selama hampir 6 tahun ini kami hanya bekerja secara swadaya, didukung oleh fasilitas bebas pakai dari Pembina Kosambo H. Sutarman serta dibantu oleh para pemerhati dan musisi dangdut senior yang tergabung dalam lembaga Amppara Mbojo, kami terus berusaha memupuk skill adik-adik yang potensial. Sementara untuk biaya transportasi rombongan peserta audisi menuju ke Kota Mataram selama ini adalah berasal dari hasil urunan para peserta sendiri serta hasil bantuan tambahan yang diperoleh dari penggalangan dana yang dilakukan oleh adik-adik itu sendiri”. Ungkap Efen R

Diakhir pembicaraan Efen R menyampaikan bahwa setiap kali duta dari Bima tampil dilayar kaca pada sesi wawancaranya selalu saja diselipkan waktu untuk mempromosikan potensi pariwisata dan aneka kebudayaan Bima. Tidak bisa dipungkiri bahwa Bima makin lebih dikenal melalui tayangan kontes dangdut seperti itu. Rimpu, susu kuda liar, madu, batu akik dan aneka kuliner khas Bima menjadi trend khasnya Bima diajang bergengsi tersebut, sehingga sangat disayangkan betapa minimnya perhatian pihak-pihak terkait dalam mendukung dan menunjang kegiatan semacam ini terutama dalam hal pembinaan awal bagi potensi potensi emas seperti ini.

“Bila perlu buatkanlah kelembagaan khusus beserta fasilitasnya dibawah naungan dinas terkait agar efektifitas pembinaan seperti ini bisa terus berjalan dengan baik dan mampu menghasilkan prestasi-prestasi yang membanggakan. Selain untuk menciptakan lapangan pekerjaan, target utamanya bukan hanya untuk mendidik calon artis ataupun mencetak prestasi seni, akan tetapi yang paling utama adalah untuk mencetak calon guru seni dari putra/putri daerah sendiri yang nota bene saat ini jumlahnya masih sangat terbatas”. tutupnya.(tambulate)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.